RSS Feed
Tes Calon Web Anda Tanpa www, lalu klik CEK

Cek Nama Domain ?

DAFTAR WEBSITE SEMENTARA

Sudah Solatkah Anda?
JADWAL SOLAT



widgeo.net

Visitor

Selamat Datang!
image

Drs. HM. YUNUS, M.Pd.I

No.HP: 08161397930, WA:081314609933


d/a: KANTOR DINAS PENDIDIKAN LT.2 KOTA BEKASI JAWA-BARAT
image

Pengawas Pembina Kota Bekasi

ASOSIASI PENGAWAS SEKOLAH INDONESIA

Al-Quran 30 Juz On-Line
HIJRAH BERSAMA UYM

MY FACEBOOK
KUMPULAN DOA-DOA
GAMBAR ANIMASI

MY YAHOO

MY SLIDESHARE

PAKIS KOTA BEKASI

TUTORIAL WEB MATIC

Merumuskan Judul dalam Penelitian Kualitatif pada Diklat Penelitian Tindakan Kelas

Endang Fadli

Balai Diklat Keagamaan Bandung

fadliendang@yahoo.co.id

 

Abstrak

Makalah ini bertujuan untuk mengkajimerumuskan judul dalam penelitian kualitatif pada diklat Penelitian Tindakan Kelas. Metode  yang digunakan dalam kajian ini dengan pendekatan kualitatif yaitu analisis dokumen-dokumen dari literasi-literasi yang relevan. Hasil pembahasan menunjukkan bahwajudul penelitian yang lengkap diharapkan mencakup sifat dan jenis penelitian, objek yang diteliti, subjek penelitian, lokasi/daerah penelitian, dan tahun/waktu terjadinya peristiwaJudul penelitian kualitatif tidak harus mencerminkan permasalahan dan variabel yang diteliti, tetapi lebih pada usaha untuk mengungkapkan fenomena dalam situasi sosial secara luas dan mendalam. 

Kata Kunci

judul, kualitatif, peneliti, penelitian

 

$1A.  Pendahuluan

Penelitian akan berjalan sebaik-baiknya jika peneliti menghayati masalah. Dia tentu akan lebih senang menggarap masalah yang dihayati daripada yang tidak. Memang untuk bekerja baik permasalahannya harus menarik perhatian peneliti. Masalah atau permasalahan penelitian dapat dilihat dari rumusan judulnya.

Di samping menarik, peneliti harus memikirkan masalah-masalah lain. Menarik saja belum cukup menjamin terlaksananya penelitian. Ada kalanya peneliti sangat ingin mencari jawaban atas sesuatu masalah tetapi faktor-faktor lain tidak memungkinkan pelaksanaannya. Ibarat pungguk merindukan bulan, rasa rindu ada tetapi kondisi tidak mendukung.

Secara singkat dapat dikemukakan di sini bahwa faktor-faktor kondisi tersebut ada yang bersumber dari diri peneliti maupun dari luar. Apabila disarikan ada empat hal yang harus dipenuhi bagi terpilihnya masalah atau judul penelitian, yaitu harus sesuai dengan minat peneliti, harus dapat di laksanakan, harus tersedia faktor pendukung dan harus bermanfaat. Dua hal yang pertama bersumber dari peneliti (faktor intern) dan dua hal yang terakhir bersumber dari luar peneliti (faktor ekstern).

Kajian ini bermaksud untuk mengkaji tentang membuat judul dalam penelitian kualitatif sebuah kajian materi pada Diklat Penelitian Tindakan Kelas.

$1B.  Pembahasan

$11.    Faktor Pendukung

$1a.    Penelitian harus sesuai dengan minat peneliti

Meneliti bukannya pekerjaan mudah. Kegiatan ini harus betul-betul diminiati. Apabila permasalahan atau judulnya tidak sesuai dengan minat, maka peneliti tidak akan bergairah untuk melaksanakannya. jika tidak, dapat diduga bahwa hasilnya tidak akan baik, bahkan boleh jadi terhenti karenanya. Sebaliknya apabila peneliti memang berminat, akan melakukannya dengan tekun dan tidak mudah putus asa apabila menjumpai kesulitan.

Faktor minat ini kelihatannya tidak formal dan bersifat subjektif. Namun demikian biasanya faktor ini berkaitan erat dengan hal yang bersifat formal, yaitu keahlian. Bagi peneliti yang bukan mahasiswa atau peneliti pernula, selain minat secara etis dipersyaratkan bahwa masalah yang diteliti harus sesuai dengan bidang keahliannya. Disamping hasilnya akan lebih baik, manfaat lain adalah pertanggungjawaban ilmiah.

$1b.    Penelitian dapat dilaksanakan

Ada empat hal sebagai pertimbangan penelitian dapat di laksanakan atau tidak, ditinjau dari diri peneliti, yaitu sebagai berikut.

$11)   Peneliti mempunyai kemampuan untuk meneliti masalah itu, artinya rnenguasai teori yang melatar belakangi masalah dan menguasai metode untuk memecahkannya.

$12)   Peneliti mempunyai waktu yang cukup sehingga tidak melakukannya asal selesai.

$13)   Peneliti mempunyai tenaga untuk melaksanakan, dalam arti cukup kuat fisiknya untuk merencanakan, menyusun alat pengumpul data, mengumpulkan data, dan menyusun laporannya.

$14)   Peneliti mempunyai dana secukupnya untuk biaya tranportasi, alat tulis-menulis, biaya foto kopi, dan lain-lain.

$1c.    Tersedia faktor pendukung

Yang dimaksud sebagai faktor pendukung yang bersumber dari luar peneliti antara lain sebagai berikut.

$11)   Tersedia data sehingga pertanyaan penelitian dapat dijawab. Sebagai misal, peneliti lain mengetahui bagaimanakah rasanya hidup di dalam tanah, sedangkan untuk mencobanya seolah-olah tidak mungkin.

$12)   Ada izin dari yang berwenang. Banyak hal yang menarik untuk diteliti tetapi peneliti dibatasi oleh peraturan-peraturan, mungkin menyangkut masalah politik, keamanan, ketertiban umum, dan sebagainya.

$1d.   Hasil penelitian bermanfaat

Menurut penulis, syarat keempat ini adalah yang terpenting. Meneliti adalah pekerjaan yang tidak mudah, yang membutuhkan tenaga, waktu, dan biaya. Untuk apa kegiatan tersebut dilakukan jika tidak menghasilkan sesuatu yang tidak bermanfaat. Kita meneliti bukan karena agar lebih mahir meneliti, tetapi karena ingin menyumbangkan hasilnya untuk kemajuan ilmu pengetahuan, meningkatkan efektivitas kerja atau mengembangkan sesuatu.

Oleh karena itu setiap peneliti, baik mahasiswa penyusun skripsi, tesis, disertasi ataupun peneliti lain sudah harus siap dengan jawaban andaikata orang mengajukan pertanyaan, “Apakah manfaat penelitian Saudara?”

Seorang ahli penelitian, yaitu Prof. Dr. Suhardjono dari Universitas UNIBRAW memberikan petunjuk kepada peneliti mengenai persyaratan penelitian yang baik dengan menggunakan istilah yang mudah diingat, yaitu APIK, singkatan dan Asli, Penting, llmiah, dan Konsisten.

$11)   Asli

Artinya bukan jiplakan dan atau mengganti-ganti penelitian orang lain, sehingga kelihatan bukan buatan sendiri. Penelitian yang baik apabila berbeda dan penelitian yang sudah pernah diteliti oleh orang lain.

$12)   Penting

Artinya bahwa hasil penelitian itu bermanfaat dan dipandang penting bagi peningkatan mutu pendidikan, khususnya bagi tugas yang sedang dilaksanakan.

$13)   Ilmiah

Artinya menggunakan proses yang dibenarkan oleh teori penelitian, yaitu mengikuti sistematika penelitian yang lazim berlaku. Penelitian dikatakan ilmiah apabila terdiri dari:

$1(a)    Pendahuluan - latar belakang masalah, ada bukti berupa fakta empirik yang dialami oleh peneliti sendiri atau pengamatan orang lain, ada tujuan yang dirumuskan dengan jelas apa target yang akan dicapai melalui tindakan itu.

$1(b)   Tujuan penelitian adalah ingin mengetahui dampak dan tindakan terhadap masalah yang akan diatasi.

Contoh: tujuan penelitian :

(1) Ingin mengetahui kelancaran diskusi kelompok dalarn bermain kartu kata yang dibuat sendiri oleh siswa.

(2) Ingin mengetahui kesungguhan siswa dalam belajar menyusun kalimat dengan rnenggunakan kartu kata.

$1(3)     Ingin mengetahui kemampuan siswa dalam menyusun kalimat dengan menggunakan kartu kata.

$1(c)    Rumusan masalah yang jelas menunjukkan pertanyaan sesuai dengan tujuan penelitian, yaitu:

$1(1)   Apakah dengan diskusi menggunakan kartu kata yang dibuat sendiri oleh siswa dapat mendorong kelancaran siswa belajar menyusun kalimat?

$1(2)   Apakah siswa bersungguh-sungguh dalam belajar menyusun kalimat apabila menggunakan kartu kata dengan metode diskusi?

$1(3)   Apakah siswa dapat memiliki kemampuan menyusun kalimat dengan benar apabila belajar dengan metode diskusi dengan menggunakan kartu kata?

$1(d)   Kajian pustaka, yaitu bagian yang berisi teori-teori yang mendukungnya. Kajian pustaka, yang biasa juga di sebut dengan istilah telaah pustaka atau landasan teori, atau apapun sebutannya, merupakan bagian yang amat penting dalam sebuah karya ilmiah. Penelitian adalah upaya untuk mengkaji gejala untuk membuahkan hasil yang diharapkan dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, penelitian harus berpijak pada ilmu-ilmu yang akan diperkaya. Semakin banyak teori relevan yang digunakan sebagai dasar berpijak, semakin mantaplah penelitian itu dilakukan.

Teori-teori yang digunakan untuk mendukung penelitian ini bukan hanya apa yang tertera dalam peraturan atau pedoman-pedoman yang sifatnya formal, tetapi pengertian, definisi, dari teori yang menunjukkan hubungan sebab akibat atau semacamnya. Sebagai contoh, untuk penerapan metode diskusi dalam penyusunan kalimat, diperlukan teori tentang bagaimana diskusi yang baik, bagaimana kartu-kartu yang menarik dan lain-lain teori yang menunjuk pada kualitas kinerja manusia yang terkait dengan teori-teori ilmu jiwa dan hubungan antar manusia.

Banyak di antara calon peneliti yang kebingungan mencari teori yang akan digunakan untuk mendukung penelitiannya. Pada umumnya mereka terpaku pada judul penelitiannya, bukan pada teori yang ada di balik variabel. Sebagai contoh, ketika meneliti variabel praktikum, teori yang dicari adalah tentang praktikum, bukan kejiwaan yang melatar belakangi siswa yang ketika akan atau sedang melakukan praktikum. Dernikian juga dengan variabel lain yang terkait dengan manusia. Dalam hal ini peneliti harus mengarahkan perhatiannya pada teori-teori ilmu jiwa yang terkait dengan variabel.

dKonsisten

Artinya ada keruntutan antara bagian yang satu dengan bagian yang lain. Ketika peneliti sudah selesai menyusun laporan, sebaiknya langsung mencermati kembali, apakah butir-butir pada kesimpulan sudah runtut dengan rumusan dan tujuan penelitian atau belum. Kesimpulan merupakan jawaban dari rumusan masalah dan memenuhi harapan yang tertera dalam tujuan. Keempat bagian ini harus menunjukkan adanya sambungan yang harmonis, runtut, dan benar. Apabila belum runtut,  peneliti harus meninjau kembali pada data yang terkumpul dari pada proses analisisnya.

Dalam penelitian kualitatif seperti yang telah dikemukakan, rumusan masalah yang merupakan fokus penelitian masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah peneliti masuk lapangan atau situasi sosial tertentu. Namun demikian setiap peneliti baik peneliti kuantitatif maupun kualitatif harus membuat rumusan masalah. Pertanyaan penelitian kualitatif dirumuskan dengan maksud untuk memahami gejala yang kompleks dalam kaitannya dengan aspek-aspek lain (in context). Peneliti yang menggunakan pendekatan kualitatif, pada tahap awal penelitiannya, kemungkinan belum memiliki gambaran yang jelas tentang aspek-aspek masalah yang akan ditelitinya. Ia akan mengembangkan fokus penelitian sambil mengumpulkan data. Proses seperti ini disebut "emergent design" (Lincoln dan Guba, 1985: 102).

$12.    Merumuskan Judul

Ada yang berpendapat bahwa sebaiknya judul penelitian ditulis selengkap mungkin sehingga dengan membaca judul dapat diketahui maksud peneliti dengan kegiatannya.

Tetapi, ada juga sebagian yang berpendapat bahwa judul penelitian sebaiknya sesingkat mungkin. Agar apabila pembaca ingin mengetahui lebih lanjut apa yang dimaksud peneliti, hendaknya membaca penjelasan di bagian lain.

Judul penelitian yang lengkap diharapkan mencakup: (1) sifat dan jenis penelitian; (2) objek yang diteliti; (3) subjek penelitian; (4) lokasi/daerah penelitian; dan (5) tahun/waktu terjadinya peristiwa.

Sebagai contoh perhatikan judul penelitian berikut.

Studi Komparasi antara Metode Induktif dan Metode Deduktif untuk Menghapal Rumus-rumus Ilmu Pasti Pelajar MAN di Kabupaten Sukabumi tahun 2013”.

Dari judul di atas maka kita peroleh.

Studi Komparasi

sifat atau jenis problema

Metode Deduktif dan Induktif untukMenghapal Rumus Ilmu Pasti

objek penelitian

Pelajar MAN

subjek penelitian

Kabupaten Sukabumi

lokasi penelitian

Tahun 2013

tahun terjadinya peristiwa

Apabila judul penelitian ditulis singkat, maka perlu ditambahkan dengan jelas penegasan judul dan batasan masalah. Penegasan ini ditulis dalam bagian pendahuluan, laporan, penelitian, dan tentu saja pada waktu penyusunan desain penelitian juga diberi penjelasan.

Contoh yang lain:

Kesiapan Kabupaten Ciamis dalam Menyongsong Otonomi Daerah di Bidang Pendidikan”.

Judul di atas jika kita cermati terdiri satu variabel, yakni Kesiapan Menyongsong Otonomi Daerah. Variabel yang tampak hanya satu tersebut sebetulnya berdimensi cukup banyak. Proses pendidikan pada otonomi daerah dapat berjalan apabila semua faktor pendukung sudah siap dan berfungsi. Pendidikan pada otonomi daerah mengandung makna antara lain sebagai berikut.

a. Subsidi biaya pendidikan dari pemerintah pusat dikurangi cukup banyak sehingga sekolah dituntut untuk mampu mengupayakan biaya sendiri bersama masyarakat sekitar. Dengan kata lain, sekolah hendaknya mampu bermandiri.

b. Adanya penyatuan visi antara sekolah masyarakat lingkungan tentang sekolah yang bertugas menyelenggarakan pendidikan. Dengan demikian diharapkan adanya kepedulian yang tinggi dari masyarakat, yang terdiri dari orang tua, tokoh masyarakat, dan pejabat setempat agar tujuan sekolah dapat tercapai secara efektif.

c. Sebagai kelanjutan dari penyatuan visi tadi, untuk menyelenggarakan suatu proses pembelajaran yang efektif, dituntut dari kedua belah pihak, baik sekolah maupun masyarakat untuk berkolaborasi memikirkan kemajuan sekolah dan mewujudkan dalam tindakan aktual. Dengan kata lain, dalam menyelenggarakan kegiatan sekolah tersebut bukan hanya sekolah yang aktif berpikir tetapi juga masyarakat.

d. Kemampuan sekolah bertindak proaktif untuk selalu membuka wawasan mengadakan evaluasi diri secara terus-menerus dalam rangka mengembangkan diri. Kemampuan semacam itu tidak dapat muncul sendiri tanpa ada upaya aktif, baik berasal dari dalam maupun dari luar, jika memang dipertimbangkan tidak adanya kemauan yang tumbuh dari dalam untuk berlatih atau menambah kemampuan dimaksud.

e. Adanya semangat yang tinggi dari setiap warga sekolah, mulai dari pimpinan sekolah, guru, siswa, dan karyawan untuk aktif sesuai dengan fungsi masing-masing. Dari harapan yang dirumuskan dari visi sekolah, masing-masing warga hendaknya mempunyai tanggung jawab untuk melaksanakan fungsinya.

Dengan contoh tadi dapat diketahui meskipun secara selintas hanya ada satu variabel yang disebutkan secara eksplisit pada judul, tetapi ternyata sekurang-kurangnya ada lima hal yang dapat dipermasalahkan. Data yang terkumpul mengenai kelima permasalahan tersebut apabila dilakukan dengan cermat dan sungguh-sungguh, sudah dapat memberikan informasi yang komplek. Kemanfaatan dari informasi yang diperoleh sudah cukup memberikan andil yang besar bagi keterlaksanaan manajemen berbasis sekolah bagi sekolah-sekolah sampel, dan dapat diaplikasikan pada sekolah-sekolah yang mempunyai keadaan yang sama.

$13.    Judul Penelitian Kualitatif

Judul dalam penelitian kualitatif pada umumnya disusun berdasarkan masalah yang telah ditetapkan. Dengan demikian judul penelitannya harus sudah spesifik dan mencerminkan permasalahan dan variabel yang akan diteliti. Judul penelitian kuantitatif digunakan sebagai pegangan peneliti untuk menetapkan variabel yang akan diteliti, teori yang digunakan, instrumen penelitian yang dikembangkan, teknik analisis data, serta kesimpulan.

Dalam penelitian kualitatif, karena masalah yang dibawa oleh peneliti masih bersifat sementara, dan bersifat holistik (menyeluruh), maka judul dalam penelitian kualitatif yang dirumuskan dalam proposal juga masih bersifat sementara, dan akan berkembang setelah memasuki lapangan. Judul laporan penelitian kualitatif yang baik justru berubah, atau mungkin diganti. Judul penelitian kualitatif yang tidak berubah, berarti peneliti belum mampu menjelajah secara mendalam terhadap situasi sosial yang diteliti sehingga belum mampu mengembangkan pemahaman yang luas dan mendalam terhadap situasi sosial yang diteliti (situasi sosial = obyek yang diteliti).

Judul penelitian kualitatif tentu saja tidak harus mencerminkan permasalahan dan variabel yang diteliti, tetapi lebih pada usaha untuk mengungkapkan fenomena dalam situasi sosial secara luas dan mendalam, serta menemukan hipotesis dan teori. Berikut ini diberikan beberapa contoh judul penelitian kualitatif.

$1a.    Pengembangan Model Perencanaan yang efektif, di Era Otonomi Daerah.

$1b.    Organisasi Pemerintah yang Efektif dan Efisien pada Era Otonomi Daerah.

$1c.    Membangun Iklim Kerja yang Kondusif

$1d.   Pengembangan Kepemimpinan Berbasis Budaya

$1e.    Pengembangan Sistem Pengawasan yang Efektif

$1f.     Makna Menjadi Pegawai Negeri Sipil bagi Masyarakat

$1g.    Makna Pembangunan Bagi Masyarakat Miskin

$1h.    Pengembangan Body Language yang Menarik Bagi Konsumen Masyarakat Yogyakarta

$1i.      Strategi Hidup Masyarakat yang Tanah dan Rumahnya Tergusur

$1j.       Manajemen Keluarga Petani dalam Menyekolahkan Anak-anaknya

$1k.    Model Belajar Anak yang Berprestasi

$1l.      Profil Guru yang Efektif Mendidik Anak

$1m.  Makna Upacara-upacara Tradisional Bagi Masyarakat Tertentu

$1n.    Pola Perkembangkan Karir bagi Orang-orang Sukses

$1o.    Makna Gotong royong Bagi Masyarakat Modern

$1p.    Mengapa SDM masyarakat Indonesia Tidak Berkualitas ?

$1q.    Mengapa Korupsi Sulit Diberantas di Indonesia ?

$1r.     Menelusuri Pola Supply and Demand Narkoba

$1s.     Makna Sakit Bagi Pasien

$1t.     Pola Manajemen Pedagang yang Diduga Punya "pesugihan"

$1u.    Pengembangan Model Perdidikan Berbasis Produksi

$1v.    Mengapa Para Pemimpin Indonesia Gagal Membangun Bangsa

$1w.  Mengadili Koruptor dengan Pendekatan Ilmiah

$1x.    Kesejahteraan Menurut Orang Miskin

$1y.    Model Pengembangan SDM Bangsa dalam Upaya Mencapai Keunggulan Kompetitif

Oleh karena itu penelitian kualitatif jauh lebih sulit dari penelitian kuantitatif, karena peneliti kualitatif harus berbekal teori yang luas sehingga mampu menjadi "human instrumen" yang baik. Dalam hal ini Borg and Gall 1988 menyatakan bahwa "Qualitative rosearch is much more difficult to do well than quantitative research because the data collected are usually subjective and the main measurement tool for collecting data is the investigator himself". Penelitian kualitatif lebih sulit bila dibandingkan dengan penelitian kuantitatif, karena data yang terkurnpul bersifat subyektif dan instrumen sebagai alat pengumpul data adalah peneliti itu sendiri.

Untuk dapat menjadi instrumen penelitian yang baik, peneliti kualitatif dituntut untuk memiliki wawasan yang luas, baik wawasan teoritis maupun wawasan yang terkait dengan konteks sosial yang diteliti yang berupa nilai, budaya, keyakinan, hukum, adat istiadat yang terjadi dan berkembang pada konteks sosial tersebut. Bila peneliti tidak memiliki wawasan yang luas, maka peneliti akan sulit membuka pertanyaan kepada sumber data, sulit memahami apa yang terjadi, tidak akan dapat melakukan analisis secara induktif terhadap data yang diperoleh. Sebagai contoh seorang peneliti bidang rnanajemen akan merasa sulit untuk mendapatkan data tentang kesehatan, karena untuk bertanya pada bidang kesehatan saja akan mengalami kesulitan. Demikian juga peneliti yang berlatar belakang pendidikan, akan sulit untuk bertanya dan mernahami bidang antropologi.

Peneliti kualitatif dituntut mampu mengorgarrisasikan semua teori yang dibaca. Landasan teori yang dituliskan dalam proposal penelitian lebih berfungsi untuk menunjukkan seberapa jauh peneliti memiliki teori dan memahami permasalahan yang diteliti walaupun permasalahan tersebut masihbersifat sementara itu. Oleh karena itu landasan teori yang dikemukakan tidak merupakan harga mati, tetapi bersifat sementara. Peneliti kualitatif justru dituntut untuk melakukan grounded research, yaitu menemukan teori berdasarkan data yang diperoleh di lapangan atas situasi sosial.

$1C.  Penutup

Ada empat hal yang harus dipenuhi bagi terpilihnya masalah atau judul penelitian, yaitu harus sesuai dengan minat peneliti, harus dapat di laksanakan, harus tersedia faktor pendukung dan harus bermanfaat.

Judul penelitian yang lengkap diharapkan mencakup sifat dan jenis penelitian, objek yang diteliti, subjek penelitian, lokasi/daerah penelitian, dan tahun/waktu terjadinya peristiwa.

Oleh karena judul penelitian sering tidak dituliskan secara lengkap, maka peneliti memperjelas maksud penelitiannya pada desain yang disusunnya.

Judul penelitian kualitatif tidak harus mencerminkan permasalahan dan variabel yang diteliti, tetapi lebih pada usaha untuk mengungkapkan fenomena dalam situasi sosial secara luas dan mendalam, serta menemukan hipotesis dan teori.

DAFTAR PUSTAKA

Albaught, R.M., Thesis Writing, New Jersey: Littlefield, Adams and Company, 1951.

Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2006.

Hadi, Sutrisno, Metodologi Research jilid 1, Yogyakarta: Andi, 2004.

Hadi, Sutrisno, Metodologi Research jilid 3, Yogyakarta: Andi, 2004.

John Dewey, How We Think, Boston: D.C. Heath and Company, 1933.

Kelly, T.L., Scientific Method. Its Function in Research and in Education, New York: The Memillan Company, 1932.

Rummel, J.F., An Introduction to Research Procedure in Education, New York: Harper & Brothers, Publisher, 1958.

Searles, H.L., Logic and Scientific Methods, New York: The Ronald Press Company, 1948.

Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, Bandung: Alfabeta, 2007.

Van Dalen, D.B. Understanding Educational Research: An Introduction, New York: McGraw-Hill Book Company Inc., 1962.

Wert, J.E., C.O. Neidt, and I. S. Ahmann, Statistical Methods in Educational and Psychological Research, New York: Appleton-Century. Crofts, Inc., 1954.

Wed, 22 Apr 2015 @11:48

Copyright © 2017 HM YUNUS · All Rights Reserved