RSS Feed
Tes Calon Web Anda Tanpa www, lalu klik CEK

Cek Nama Domain ?

DAFTAR WEBSITE SEMENTARA

Sudah Solatkah Anda?
JADWAL SOLAT



widgeo.net

Visitor

Selamat Datang!
image

Drs. HM. YUNUS, M.Pd.I

No.HP: 08161397930, WA:081314609933


d/a: KANTOR DINAS PENDIDIKAN LT.2 KOTA BEKASI JAWA-BARAT
image

Pengawas Pembina Kota Bekasi

ASOSIASI PENGAWAS SEKOLAH INDONESIA

Al-Quran 30 Juz On-Line
HIJRAH BERSAMA UYM

MY FACEBOOK
KUMPULAN DOA-DOA
GAMBAR ANIMASI

MY YAHOO

MY SLIDESHARE

PAKIS KOTA BEKASI

TUTORIAL WEB MATIC

PROFESIONALISME PENGAWAS PAI DIBIDANG SUPERVISI AKADEMIK

PROFESIONALISME PENGAWAS PAI DIBIDANG SUPERVISI AKADEMIK

Oleh:

Suhri Nasution

ABSTRAKSI

Tulisan ini merupakan hasil penelitian terhadap profesionalisme pengawas PAI di wilayah Kemenag Provinsi Banten dalam aspek supervisi akademik.

Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif analisis.  Dari 9 butir  kompetensi supervisi akademik sebagaimana diatur dalam permendiknas No. 12 tahun 2007. Rata-rata nilai responden  dari semua butir adalah 66,7 %. Nilai tertinggi pada butir ‘Memahami konsep, prinsip, teori/teknologi, karakteristik dan kecendrungan perkembangan proses pembelajaran/bimbingan tiap mata pelajaran dalam mata pejalaran yang relevan disekolah’ dengan nilai rata-rata 100 % dan pada butir ‘Membimbing guru dalam memilih dan menggunakan strategi/metode/teknik pembelajaran/bimbingan yang dapat mengembangakan berbagai potensi siswa melalui mata-mata pelajaran dalam rumpun   mata pelajaran PAI, dengan  nilai rata-rata 100 %.

Nilai terendah pada butir ‘ Memahami konsep, prinsip, teori dasar, karakteristik dan kecendrungan perkembangan tiap mata pelajaran dalam rumpun   mata pelajaran PAI, dengan nilai rata-ratanya 40 % dan pada butir ‘Membimbing guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran/bimbingan (di kelas, laboratorium dan atau dilapangan) untuk tiap mata pelajaran dalam rumpun   mata pelajaran PAI, dengan nilai rata-rata 40%.

Kesimpulan dari penelitian ini,  keprofeionalan pengawas PAI di lingkungan Kemengan Provinsi Banten cukup baik, yaitu angka 66,7 %. 

Dari hasil penelitian ini disarankan kepada pejabat pembina pengawas PAI di Kemenag Provinsi Banten  untuk meningkatkan pembinaan kepada para pengawas melalui keikutsertaan dalam diklat, diklat, forum diskusi dan seminar.  Dalam pelaksanaan diklat, agar diberikan materi yang sesuai dengan diskrefansi kompetensi mereka dengan kompetensi yang ideal.

         

A. 

Pendahuluan

 

1. 

Latar belakang

   

Seiring dengan gelombang refomasi di bidang politik sejak tahun 1998, terjadi pula reformasi dibidang pendidikan, hal ini ditandai dengan keluarnya Undang-Undang tentang Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003.  Reformasi dalam bidang pendidikan diarahkan pada standarisasi  aspek-aspek  pendidikan. Standarisasi yang dimaksud sebagaimana terdapat dalam UU No. 20 tentang Sisdiknas Bab IX Standar Nasional Pendidikan pasal 35: 

   

1) 

Standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan,tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala.

   

2)

Standar nasional pendidikan digunakan sebagai acuan pengembangan kurikulum, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, Pengelolaan, dan pembiayaan.

     

Turunan dari  UU No. 20 Tahun 2003 ini , dikeluarkan PP Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP). Di dalamnya diatur delapan standar nasional pendidikan meliputi: Standar kompetensi lulusan, Standar isi,  Standar proses, Standar pendidik dan tenaga kependidikan, Standar sarana dan prasarana, Standar pengelolaan, Standar pembiayaan dan Standar penilaian pendidikan.

     

Seiring dengan keluarnya PP Nomor 19 Tahun 2005 maka dikeluarkan Permendiknas No. 22 tahun 2006 Tentang Standar Isi, Permendiknas Nomor 23 Tahun 2007 Tentang Standar Kelulusan, Permendiknas Nomor  13  tahun 2007  Pendidik , Permendiknas Nomor 16 Standar Kualifikasi Pendidik, Permendiknas Nomor 19 Tentang Standar Pengelolaan, Permendiknas Nomor 20 Tahun 2007 Tentang Penilaian, Permendiknas Nomor 24 Tentang Sarana dan Prasarana, Permendiknas Nomor 41 tentang Standar Proses.

     

Untuk menjelaskan standar kualifikasi pendidik dan tenaga pendidik dikeluarkan pula permendiknas Nomor 12 tahun 2007 tentang pengawas dan  Permendiknas Nomor 13 Tahun 2007 tentang kepala sekolah Nomor 16 Tahun 2007 tentang guru. Permendiknas 25, 25, 26, 27 tahun 2008 secara berturut-turut tentang  standar TU, Pustakawan Laboran dan Konselor.

     

Khusus untuk pengawas, sebagaimana diatur dalam permendiknas 12 Tahun 2007, pengawas harus mempunyai 6 kompetensi yaitu:  

     

(1)  Kompetensi Kepribadian ; (2) Kompetensi Sosial; (3) Kompetensi Supervisi Manajerial ; (4) Kompetensi Supervisi Akademik;  (5) Kompetensi Evaluasi Pendidikan; dan (6) Kompetensi Penelitian Dan Pengembangan: 

     

Pengawas dituntut untuk menguasai ke enam kompetensi diatas seiring dengan kompleknya permasalahan pendidikan  dilapangan yang harus diselesaikan oleh pengawas. Dalam hal ini, pekerjaan pengawas bukan lagi sekedar perpanjangan usia kerja sebagaimana banyak terjadi di masa-masa sebelumnya, tetapi pengawas dituntut untuk menjadi seorang profesional agar dapat memberikan bimbingan kepada guru-guru, kepala madrasah dan tenaga kependidikan diwilayah binaannya.

     

Dalam era reformasi pendidikan dewasa ini, peran pengawas sangat penting dalam menggerakkan pendidikan  melalui tugas pokoknya. Tugas pokok pengawas ialah sebagai inspector, advisor, monitor, reporter, evaluator dan performance leadership. Untuk menjalankan tugas pokoknya tersebut, pengawas pendidikan hendaknya kompeten dengan bidang tugasnya.

     

Menurut Direktur Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Surya Dharma, saat ini terdapat 250.000 Kepala Sekolah Dan 25.000 Pengawas Sekolah di seluruh Indonesia (kompas 31 Januari 2010). Jumlah ini termasuk di lingkungan Kemenag. Di wilayah Banten sendiri terdapat 187 Pengawas PAI yang harus mengawasi 1500 sekolah dan  6000 guru.  

     

Informasi yang diperoleh dari ketua Pokjawas Kanwil Kemenag Provinsi Banten, baru 80% pengawas yang telah mengikuti diklat. Kondisi ini menjadi masalah tersendiri dalam pelaksanaan bimbingan terhadap guru, dimana idealnya seorang pengawas harus lebih mumpuni pengetahuannya dibanding guru-guru, kepala madrasah dan tenaga kependidikan agar ia mampu memberikan bimbingan dan perbaikan kinerja.

     

Dari hasil wawancara dengan guru PAI di wilayah Provinsi Banten, intensitas kunjungan pengawas ke sebuah sekolah/madrasah jarang, hal ini dikeluhkan oleh  guru-guru PAI, karena mereka tidak dapat memperoleh bimbingan dari pengawas seusai dengan harapan. Kalaupun ada bimbingan yang dilakukan oleh pengawas terhadap guru melalui MGMP, jarang dilakukan melalui pendekatan supervisi klinis. Kalaupun ada pembinaan, terkadang  informasi yang disampaikan kurang aktual, hal ini dikarenakan pengawas terlambat mendapat informasi mengenai perkembangan dunia pendidikan yang berjalan cepat. Ini terjadi akibat mereka jaranga memperoleh kesempatan diklat,forum-forum ilmiah seperti seminar, orientasi dan diskusi. Kenyataan ini diakui sendiri oleh pengawas melalui wawancara. 

     

Banyaknya jumlah sekolah dan madrasah yang menjadi binaan, menjadi kendala tersendiri, sehingga pengawas jarang berkunjung ke sekolah dan madrasah. Ditambah lagi lokasi yang luas, dan sulitnya alat transportasi menjadi permasalahan tersendiri dalam pelaksanaan pengawasan pendidikan di lapangan. Di wilayah Provinsi Banten masih ada pengawas yang mempunyai wilayah binaan 130 sekolah/ madrasah, padahal idealnya menurut  Permenpan No. 21 Tahun 2010, beban kerja pengawas hanya 37,5 jam perminggu. Pengawas sekolah mengawasi sekolah 10-15 sekolah dan 40 orang guru.

     

Keadaan ini menambah permasalahan pengawasan pendidikan Agama Islam khususnya di wilayah kerja Kemanag Provinsi Banten.

 

2.

Perumusan Masalah

   

Yang menjadi pertanyaan penelitian adalah :

   

a.

Bagaimana profesionalisme pengawas PAI dalam bidang supervisi akademik di wilayah Kemenag Provinsi Banten  

   

b.

Aspek-aspek apa saja dalam kompetensi supervisi akademik yang sudah dikuasai?

   

c. 

Aspek-aspek apa saja dalam kompetensi supervisi akademik yang belum dikuasai?

 

3. 

Tujuan penelitian

   

a.

Untuk mengetahui tingkat profesionalisme pengawas PAI dalam bidang supervisi akademik di wilayah Kemenag Provinsi Banten  

   

b.

Untuk mengetahui aspek-aspek  dalam kompetensi supervisi akademik yang sudah dikuasai?

   

c. 

Untuk mengetahui Aspek-aspek dalam kompetensi supervisi akademik yang belum dikuasai?

 

4. 

Manfaat Penelitian

   

Penelitian ini bermanfaat untuk:

   

a. 

Memberikan bahan masukan kepada pejabat pembina pengawas di lingkungan kemenag Provinsi Banten tentang kondisi kompetensi pengawas di dalam bidang supervisi akademik untuk membuat program peningkatan sumberdaya SDM kepengawasan di Kemenag Provinsi Banten.

   

b. 

Memberi bahan masukan kepada Balai Diklat Keagamaan Jakarta untuk menyelenggarakan diklat pengawas yang tepat sesuai dengan diskrefansi yang ditemukan dilapangan.

   

c.

Mengembangkan materi-materi supervisi akademik yang sesuai dengan kebutuhan guru, kepala sekolah dan tenaga kependidikan.

 

5. 

Ruang lingkup penelitian

   

Lingkup penelitian ini fokus pada salah satu aspek kompetensi pengawas, yaitu aspek kompetensi supervisi akademik, untuk mengetahui sejauhmana mereka menguasai kompetensi tersebut kaitannya dengan pemahaman terhadap lingkup tugas dan pelaksanaannya.

 

6. 

Metodologi Penelitian

   

Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan penelitian kualiatif. Metode yang digunakan adalah deskriftif analisis, yaitu mendeskrifsikan keprofesionalan pengawas PAI dalam bidang supervisi akademik dan menganalisisnya.

   

Penelitian ini dilaksanakan bulan Oktober s.d Desember 2010 di Banten.

   

Populasi data diambil dari peserta Diklat Peningkatan Kompetensi Pengawas Sekolah Dan Pengawas Madrasah Angkataan Ke II Di Provinsi Banten yang dilaksanakan di Badan Diklat Provinsi Banten. 

   

Peserta diklat ini  berjumlah 65 orang. 8 orang berasal dari Kota Tangerang, 6 orang   berasal dari  Kabupaten Tangerang, 14 orang dari Kabupaten Serang, 16 orang berasal dari Kabupaten Pandeglang, 16 orang berasal dari Kabupaten lebak dan 5 orang berasal dari Kabupaten Cilegon.

   

Untuk mendapatkan data, peneliti menggunakan kuisioner dan pedoman wawancara. kuisioner digunakan untuk menghimpun informasi berkenaan dengan penguasaan mereka pada aspek-aspek kompetensi supervisi akademik, sementa  wawancara digunakan untuk memperdalam  informasi yang diperoleh melalui angket.

 

 

Isi kuisioner terdiri dari sejumlah pertanyaan dan pernyataan yang memuat indikator dari variabel penelitian. Penggunaan skor pada kuisioner menggunakan skala Likert dengan lima pilihan jawaban, yaitu 5 jawaban sangat memahami atau sangat sering melakukan, 4 memahami atau sering, 3 cukup memahami atau cukup sering melakukan, 2  kurang memahami atau jarang melakukan dan 1 tidak memahami atau tidak pernah melakukan.

   

Penelitian ini dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut; (a) Mempersiapkan rancangan proposal penelitian; (b) Menyusun jadwal penelitian; (c) Menyusun intrumen pengumpul pengumpul data; (d)  Melakukan uji coba instrumen penelitian; (e) Menyebarkan kuesoner kepada responden; (f) Mengumpulkan kuesoner dan angket; (g) Melakukan wawancara kepada responden; (h) Melakukan analisis data dan menguji hipotesis; (i) Mendeskripsikan hasil penelitian dan bentuk laporan penelitian.

   

Teknik analisis data  dengan melakukan analisis domain, yaitu dengan cara menghimpun data untuk mendapatkan gambaran secara umum dari kompetensi pengawas PAI di bidang supervisi akademik, kemudian medisplay data dari masing-masing butir kompetensi kademik. Data yang diperoleh kemudian diprosentasikan, kemudian  nilai dari masing-masing butir kompetensi dibandingkan satu sama lain untuk mengetahui  butir mana yang dianggap sudah kompeten dan butir mana yang dianggap masih kurang kompeten. Selanjutnya diambil kesimpulan. 

B.

Kajian Teori

 

Profesionalisme adalah komitmen para profesional terhadap profesinya. Komitmen tersebut ditunjukkan dengan kebanggaan dirinya sebagai tenaga profesional, usaha terus-menerus untuk mengembangkan kemampuan  profesional.

 

Ada 4 ciriā€ciri profesionalisme: (a) Memiliki keterampilan yang tinggi dalam suatu bidang serta kemahiran dalam menggunakan peralatan tertentu yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas yang bersangkutan dengan bidang tadi. (b) Memiliki ilmu dan pengalaman serta kecerdasan dalam menganalisis suatu masalah dan peka di dalam membaca situasi cepat dan tepat serta cermat dalam mengambil keputusan terbaik atas dasar kepekaan. (c) Memiliki sikap berorientasi ke depan sehingga punya kemampuan mengantisipasi perkembangan lingkungan yang terbentang di hadapannya. (d) Memiliki sikap mandiri berdasarkan keyakinan akan kemampuan pribadi serta terbuka menyimak dan menghargai pendapat orang lain, namun cermat dalam memilih yang terbaik bagi diri dan perkembangan pribadinya 

 

(sumber :http://ebekunt.files.wordpress.com/2009/06/profesionalisasi-bimbingan-dan-konseling.pdf)

 

Kompetensi menurut Purwadarminta dalam kamus umum Bahasa Indonesia, adalah kewenangan (kekuasaan) untuk menentukan atau memutuskan sesuatu hal. Kompetensi yang ada dalam Bahasa Inggris adalah competency atau competence merupakan kata benda, menurut William D. Powell dalam aplikasi Linguist Version 1.0 (1997) diartikan: 1)kecakapan, kemampuan, kompetensi 2)wewenang. Kata sifat dari competence adalah competent yang berarti cakap, mampu, dan tangkas.

 

Jadi kompetensi pengawas dapat berarti suatu kewenangan pengawas dalam menentukan atau memutuskan suatu permasalahan yang ada dalam suatu lingkup tupoksinya, atau juga dapat diartikan sebagai kemampuan pengawas dalam menguasai bidang tugasnya baik  bersifat teoritis maupun praktis sesuai dengan tuntutan tugas menurut peraturan yang  berlaku.

 

Supervisi akademik adalah serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran demi pencapaian tujuan pembelajaran Glickman (1981). Sementara itu, Daresh (1989) menyebutkan bahwa supervisi akademik merupakan upaya membantu guru-guru mengembangkan kemampuannya mencapai tujuan pembelajaran.

 

Kompetensi supervisi akademik adalah kemampuan pengawas sekolah dalam melaksanakan pengawasan akade­mik yakni menilai dan membina guru dalam rangka memper­tinggi kualitas proses pembelajaran yang dilaksanakannya agar berdampak terhadap kualitas hasil belajar siswa.

 

Kompetensi supervisi akademik yang harus dikuasai pengawas sebagai terdapat dalam Permendiknas No. 12 tahun 2007 sebagai berikut; (a) Menguasai konsep, prinsip, teori dasar, karakteristik dan kecenderungan perkembangan tiap mata pelajaran; (b) menguasai konsep, prinsip, teori dasar, karakteristik dan kecenderungan proses pembelajaran/pembimbingan tiap mata pelajaran; (c) memahami konsep, prinsip, teori/teknologi, karakteristik dan kecendrungan perkembangan proses pembelajaran/bimbingan tiap mata pelajaran dalam mata pejalaran PAI;  (d) membimbing guru dalam menyusun silabus mata pelajaran berdasarkan standar isi, standar kompetensi dan kompetensi dasar serta prinsip-prinsip pengembangan KTSP; (e) membimbing guru dalam memilih dan menggunakan strategi/metode/teknik, pembelajaran/’bimbingan setiap mata pelajaran membimbing guru dalam menyusun rencana pelaksa­naan pembelajaran tiap mata pelajaran; (f) membimbing guru dalam menyususn rencana pelaksanaan  pembelajaran tiap mata pelajaran; (g) membimbing guru dalam melaksanakan pembelajaran di laboratorium dan di lapangan; (h) membimbing guru dalam mengelola, merawat, mengem -bangkan dan menggunakan media serta fasilitas pembe-lajaran/bimbingan; (i)  membimbing guru dalam memanfaatkan teknologi informasi untuk pembelajaran/bimbingan.

 

Tugas pengawas sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Dan Reformasi Birokrasi No 21 Tahun 2010 Tentang  Jabatan Fungsional dan Angka Kreditnya, Pasal 5; Tugas pokok Pengawas Sekolah adalah melaksanakan tugas pengawasan akademik dan manajerial pada satuan pendidikan yang meliputi penyusunan program pengawasan, pelaksanaan pembinaan, pemantauan pelaksanaan 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan, penilaian, pembimbingan dan pelatihan professional Guru, evaluasi hasil pelaksanaan program pengawasan, dan pelaksanaan tugas kepengawasan di daerah khusus.

 

Mengenai kualifikasi pengawas sebagaimana diat Pasal 31: 

 

(1) PNS yang diangkat dalam jabatan Pengawas Sekolah harus memenuhi syarat sebagai berikut:  (a) Masih berstatus sebagai Guru dan memiliki sertifikat pendidik dengan pengalaman mengajar paling sedikit 8 (delapan) tahun atau Guru yang diberi tugas tambahan sebagai kepala sekolah/madrasah paling sedikit 4 (empat) tahun sesuai dengan satuan pendidikannya masi ng-masing; (b) berijazah paling rendah Sarjana (S1)/Diploma IV bidang Pendidikan; (c) memiliki keterampilan dan keahlian yang sesuai dengan bidang pengawasan; (d) memiliki pangkat paling rendah Penata, golongan ruang III/c; (e) usia paling tinggi 55 (lima puluh lima) tahun; (f) lulus seleksi calon Pengawas Sekolah; (g) telah mengikuti pendidikan dan pelatihan fungsional calon Pengawas Sekolah dan memperoleh STTPP; dan (h) setiap unsur penilaian pelaksanaan pekerjaan dalam Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan (DP3) paling rendah bernilai baik dalam 2 (dua) tahun terakhir.

 

Para pakar pendidikan telah banyak menegaskan bahwa seseorang akan bekerja secara profesional apabila ia memiliki kompetensi yang memadai. Maksudnya adalah seseorang akan bekerja secara profesional apabila ia memiliki kompetensi secara utuh. Seseorang tidak akan dapat bekerja secara profesional apabila ia hanya memenuhi salah satu kompetensi di antara sekian kompetensi yang dipersyaratkan. 

 

Kompetensi tersebut merupakan perpaduan antara kemampuan dan motivasi. Betapapun tingginya kemampuan seseorang, ia tidak akan bekerja secara profesional apabila ia tidak memiliki motivasi kerja yang tinggi dalam mengerjakan tugas-tugasnya. Sebaliknya, betapapun tingginya motivasi kerja seseorang, ia tidak akan bekerja secara profesional apabila ia tidak memiliki kemampuan yang tinggi dalam mengerjakan tugas-tugasnya.

C. 

Pembahasan

 

1.

Kompetensi Akademik pengawas PAI Wilayah Kerja Kanwil Kemenag Provinsi Banten

   

Kompetensi akademik sebagaimana terdapat permendiknas Nomor 12 Tahun 2007  yang harus dimiliki seorang pengawas teridiri dari 9 butir, yaitu ; 

   

(a) Menguasai konsep, prinsip, teori dasar, karakteristik dan kecenderungan perkembangan tiap mata pelajaran, (b) menguasai konsep, prinsip, teori dasar, karakteristik dan kecenderungan proses pembelajaran/pembimbingan tiap mata pelajaran, (c) memahami konsep, prinsip, teori/teknologi, karakteristik dan kecendrungan perkembangan proses pembelajaran/bimbingan tiap mata pelajaran dalam mata pejalaran PAI (d) membimbing guru dalam menyusun silabus mata pelajaran berdasarkan standar isi, standar kompetensi dan kompetensi dasar serta prinsip-prinsip pengembangan KTSP, (e) membimbing guru dalam memilih dan menggunakan strategi/metode/teknik, pembelajaran/’bimbingan setiap mata pelajaran membimbing guru dalam menyusun rencana pelaksa­naan pembelajaran tiap mata pelajaran, (f) membimbing guru dalam menyususn rencana pelaksanaan pembelajaran tiap mata pelajaran.(g) membimbing guru dalam melaksanakan pembelajaran di laboratorium dan di lapangan, (h) membimbing guru dalam mengelola, merawat, mengem -bangkan dan menggunakan media serta fasilitas pembe-lajaran/bimbingan, (i) membimbing guru dalam memanfaatkan teknologi informasi untuk pembelajaran/bimbingan.

   

Hasil dari kuisioner yang disebarkan kepada 65 responden pada bulan Nopember 2010, sebagai mana terlihat dalam tabel berikut ini.

   

REKAPITULASI HASIL ANGKET

   

NO

ASPEK KOMPETENSI

NO SOAL

5

4

3

2

1

%

1

Memahami konsep, prinsip, teori dasar rumpun   mata pelajaran yang relevan

1, 2, 3

12,3

40,0

46,2

1,5

0,0

60,3

4,6

49,2

36,9

9,2

1,5

10,8

32,3

50,8

6,2

0,0

   

27,7

121,5

133,8

16,9

1,5

2

Memahami konsep, prinsip, teori dasar, karakteristik dan kecendrungan perkembangan tiap mata pelajaran dalam rumpun   mata pelajaran yang relevan di sekolah menegah

4, 5

9,2

52,3

27,7

10,8

0,0

40,0

6,2

50,8

32,3

10,8

0,0

   

15,4

103,1

60,0

21,5

0,0

3

Memahami konsep, prinsip, teori/teknologi, karakteristik dan kecendrungan perkembangan proses pembelajaran/bimbingan tiap mata pelajaran dalam mata pejalaran yang relevan disekolah menengah yang sejenis.

6, 7,8, 9, 10

12,3

52,3

30,8

3,1

1,5

100,0

10,8

32,3

38,5

9,2

9,2

3,1

41,5

44,6

9,2

1,5

18,5

46,2

29,2

3,1

3,1

9,2

40,0

38,5

10,8

1,5

   

53,8

212,3

181,5

35,4

16,9

4

Membimbing guru dalam menyusun silabus tiap mata pelajaran dalam rumpun   mata pelajaran yang relevan disekolah menengah yang sejenis berlandaskan standar isi, standar kompetensi dan kompetensi dasar dan prinsip-prinsip pengembangan KTSP.

11,  12, 13

9,2

49,2

35,4

6,2

0,0

60,0

10,8

33,8

47,7

6,2

1,5

6,2

33,8

49,2

9,2

1,5

   

26,2

116,9

132,3

21,5

3,1

   

NO

ASPEK KOMPETENSI

NO SOAL

5

4

 

2

1

%

 

5

Membimbing guru dalam memilih dan menggunakan strategi/metode/teknik pembelajaran/bimbingan yang dapat mengembangakan berbagai potensi siswa melalui mata-mata pelajaran dalam rumpun   mata pelajaran PAI. 

14,15,16,17,18,

9,2

41,5

 

4,6

3,1

100,0

 

10,8

35,4

 

9,2

0,0

 

7,7

63

 

4,6

0,0

 

20,0

49,2

 

7,7

0,0

 

7,7

47,7

 

9,2

1,5

 

   

55,4

236,9

 

35,4

4,6

 

6

Membimbing guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) untuk tiap mata pelajaran dalam rumpun   mata pelajaran yang relevan disekolah menengah 

19, 20, 21,

6,2

50,8

 

7,7

1,5

60,0

 

20,0

53,8

 

1,5

0,0

 

20,0

53,8

 

3,1

3,1

 

     

46,2

158,5

 

12,3

4,6

 

7

Membimbing guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran/bimbingan (di kelas, laboratorium dan atau dilapangan) untuk tiap mata pelajaran dalam rumpun   mata pelajaran yang relevan disekolah menengah yang sejenis.

22, 23

6,2

56,9

 

4,6

1,5

40,0

 

16,9

56,9

 

3,1

0,0

 

     

23,1

113,8

 

7,7

1,5

 

8

Membimbing guru dalam mengelola, merawat, mengembangkan dan menggunakan media pendidikan dan fasilitas pembelajaran/bimbingan tiap mata pelajaran dalam rumpun   mata pelajaran yang relevan disekolah menengah yang sejenis.

24, 25, 26, 27

12,3

47,7

 

4,6

3,1

80,0

 

15,4

50,8

 

4,6

1,5

 

9,2

49,2

 

4,6

1,5

 

4,6

58,5

 

9,2

3,1

 

     

41,5

206,2

 

23,1

9,2

 

9

Memotivasi guru untuk memanfaatkan teknologi informasi dalam pembelajaran/bimbingan tiap mata pelajaran dalam rumpun   mata pelajaran yang relevan disekolah menengah yang sejenis.

28, 29 30 

9,2

24,6

 

7,7

10,8

60,0

 

3,1

33,8

 

13,8

4,6

 

3,1

46,2

 

4,6

1,5

 

   

15,4

104,6

 

26,2

16,9

 

       

TOTAL  PERSENTASE

66,7

   
 
   

Pada aspek butir memahami konsep, prinsip, teori dasar rumpun   mata pelajaran yang relevan, pada pernyataan, ‘(1) Memahami konsep   materi rumpun   PAI, 12,3 % menyatakan sangat memahami, 40,0 % memahami, 46,2 %  cukup memahami, 1,5 % kurang memahami dan tidak ada pengawas yang menyatakan diri tidak memahami sama sekali. Secara umum pengawas memahami konsep materi PAI yang menjadi bidang tugasnya. Pada pernyataan ‘(2) Memahami prinsip-prinsip  materi rumpun   PAI’, 4,6 % sangat memahami, 49,2% memahami, 36,9% cukup memahami, 9,2 % kurang memahami dan hanya 1,5 % yang tidak memahami. Pada pernyataan ‘(3)  memahami teori dasar rumpun   mata pelajaran rumpun   PAI’ 10,8 % sangat memahami, 32,3 % memahami, 50,8 % cukup memahami, 6,2 % kurang memahami dan 0 % yang tidak memahami. Pemahaman konsep terhadap materi pelajaran penting, untuk mengetahui karakteristik dari suatu materi pelajaran. Dengan memahami karakteristik materi pelajaran dapat memilih bahan ajar, media, strategi pemebalajaran yang tepat sesuai dengan materi tersebut. Data responden dirata-ratakan adalah 60,3 %.

   

Pada aspek butir memahami konsep, prinsip, teori dasar, karakteristik dan kecendrungan perkembangan tiap mata pelajaran dalam rumpun   PAI, pada pernyataan ‘(4)  Memahami karakteristik materi rumpun PAI’ 9,2 % menyatakan sangat memahami, 52,3 % memahami, 27,7 % cukup memahami, 10,8 % kurang memahami dan 0 % tidak memahami. Angka yang menunjukkan pengawas memahami dengan baik karakteristik pembelajaran PAI cukup tinggi, yaitu 52,3 %. Pada pernyataan ‘(5) memahami arah perkembangan pembelajaran rumpun   PAI, 6,2 % sangat memahami,  50,8 % memahami, 32,3 % cukup memahami, 10,8% dan 0 % tidak memahami. 0 % memahami dengan baik konsep, pinsip, teori dasar, karakteristik dan arah perkembangan mata pelajaran PAI apabila dirata-ratakan 40,0%. Angka menujukkan pengawas memiliki pemahaman kurang dalam bidang ini. Padahal seharusnya pemahaman pada konsep, prinsip, teori dasar dan karakteristik ini awal memahami konten lainnya.

   

Pada aspek butir memahami konsep, prinsip, teori/teknologi, karakteristik dan kecendrungan perkembangan proses pembelajaran/bimbingan tiap mata pelajaran dalam mata pejalaran PAI untuk  pernyataan ‘(6)  memahami  konsep-konsep  proses pembelajaran rumpun   PAI, 12,3 % menyatakan sangat memahami, 52,3 % memahami, 30,8% cukup memahami, 3,1% kurang memahami dan 1,5% tidak memahami. Pada pernyataan ‘(7)  memahami teknologi pembelajaran rumpun   PAI’ 10,8 %  sangat memahami, 32,3 % memahami, 38,5% cukup memahami, 9,2 % kurang memahami dan 92,% tidak memahami. Pada  pernyataan ‘(8)  mengikuti perkembangan teori dan teknologi  pembelajaran rumpun PAI’ 3,1 % sangat mengikuti, 3,1% mengikuti, 41,5 % cukup mengikuti, 9,2% kurang mengikuti dan 1,5% tidak mengikuti. Pada pernyataan  ‘(9)  memahami teori bimbingan kepada siswa’ 18,5% sangat memahami, 46,2% memahami, 29,2 % cukup memahami, 3,1% kurang memahami dan 3,1% tidak memahami. Pada pernyataan ‘(10)  memahami bagaimana memasukkan Nilai-Nilai Kewirausaahaan dan Krakter Budaya Bangsa dalam pembelajaran.9,2 % sangat memahami, 40,0% memahami, 38,5% cukup memahami, 10,8 % kurang memahami dan 1,5 % tidak memahami. dalam internalisasi nilai-nilai kewiusahaan dan karakter budaya, 10,8% kurang memahami, ini erat kaitannya dengan kebaruan dari kedua materi ini yang baru gulirkan, sehingga banyak responden yang belum memahami bagaimana internalisasi nilai-nilai tersebut kedalam materi pembelajaran. Pemahaman terhadap teori, teknologi pembelajaran PAI, 3,7% responden menyatakan kurang memahami, malah untuk teknologi pembelajaran 1,8  % menyatakan tidak memahami. Angka tertinggi pada pemahaman teori bimbingan kepada siswa, yaitu 18,5 %  sangat memahami, menyusul pemahaman terhadap konssep-konsep proses pembelajaran PAI. Rata-rata dari butir ini 100%, angka yang  bagus.

   

Pada aspek  butir membimbing guru dalam menyusun silabus tiap mata pelajaran dalam rumpun   mata pelajaran PAI berlandaskan standar isi, standar kompetensi dan kompetensi dasar dan prinsip-prinsip pengembangan KTSP dalam pernyataan ‘ (11)  memahami cara menyusun silabus mata pelajaran rumpun   PAI menurut standar isi, standar kompetensi dan prinsip-prinsip pengembangan KTSP, 9,2, % responden menyatakan sangat memahami, 49,2% memahami, 35,4% cukup memahami, 6,2% kurang memahami dan 0 % tidak memahami. Pada pernyataaan ‘(12)  memberikan bimbingan kepada guru-guru mengenai cara menyusun silabus mata pelajaran rumpun   PAI menurut standar isi, standar kompetensi dan prinsip-prinsip pengembangan KTSP’, 10,8% sangat sering memberikan bimbingan, 33,8% sering, 47,7% cukup memahami, 6,2% jarang dan 1,5% tidak pernah. Pada pernyataan ‘(13) mengadakan evaluasi terhadap silabus rumpun   PAI yang dikembangkan oleh madrasah/sekolah’ 6,2% sangat sering melakukan, 33,8% melakukan, 49,2%  cukup sering melakukan, 9,2% jarang melakukan dan 1,5% tidak pernah melakukan. Angka rata-rata untuk aspek butir ini 60,0 %

   

Pada aspek butir membimbing guru dalam memilih dan menggunakan strategi/metode/teknik pembelajaran/bimbingan yang dapat mengembangakan berbagai potensi siswa melalui mata-mata pelajaran dalam rumpun   mata pelajaran PAI, untuk pernyataan `(14) memahami strategi dan metode pembelajaran yang tepat dalam mengembangkan berbagai potensi siswa melalui pembelajaran rumpun   PAI’, 9,2 % sangat memahami, 41,5% memahami, 41,5 % cukup memahami, 4,6 % kurang memahami dan 3,1% tidak memahami. Pada pernyataan’ (15) memahami model-model pembelajaran dan perkembangannya untuk mengembangkan berbagai potensi siswa melalui pembelajaran rumpun   PAI, 10,8 % sangat memahami, 35,4 % memahami, 44,6 % cukup memahami, 9,2 % kurang memahami dan 0 % tidak memahami. Pada pernyataan (16) memberikan bimbingan kepada guru-guru bagaimana memilih strategi, metode dan model yang tepat untuk mengembangkan berbagai potensi siswa melalui pembelajaran rumpun   PAI’, 7,7 % sangat sering melakukan, 63,1 % memberikan, 24,6% cukup sering melakukan, 4,6 % jarang melakukan. Pada pernyataan ‘(17) memotivasi guru untuk membuat pembelajaran yang menyenangkan sesuai dengan prinsip PAIKEM dan setiap pembelajaran rumpun PAI’,  20% sangat sering melakukan, 49,4% melakukan, 23,1 %  cukup sering, 7,7 % jarang melakukan dan 0,3 % tidak pernah melakukan. Pada pernyataan (18) memantau guru-guru menggunakan metode dan model pembelajaran untuk mengembangkan berbagai potensi siswa  melalui pembelajaran rumpun   PAI saat berlangsung proses pembelajaran’, 7,7 % sangat sering melakukan, 47, 7% sering melakukan, 33,8% cukup sering melakukan, 9,2 % jarang melakukan dan 1,5 % jarang melakukan. Angka rata-rata untuk aspek ini 100 %

   

Pada aspek butir membimbing guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) untuk tiap mata pelajaran dalam rumpun   mata pelajaran PAI, untuk  pernyataan ‘(19) memberikan umpan balik kepada guru-guru mengenai metode atau model yang mereka gunakan dalam mengembangkan berbagai potensi siswa melalui pembelajaran rumpun   PAI’, 6,2 % menyatakan sering melakukan, 50,8 % sering melakukan, 33,8 % cukup sering melakukan, 7,7 % jarang melakukan dan 1,5 % tidak pernah melakukan. Pada pernyataan ‘(20) memahami langkah-langkah dan cara menyusun RPP yang sesuai standar’, 20% responden menyatakan sangat memahami, 53,8% memahami dengan baik, 24, 8% cukup  memahami, 1,5% kurang memahami, 0% tidak memahami. ‘(21) pada pernyataan ‘ memberikan bimbingan kepada guru bagaimana menyusun RPP’ 20,0 % responden menyatakan sangat sering melaksanakan, 53,8 % sering melakukan, 20,0% cukup sering melakukan, 3,1 % jarang melakukan dan 3,1 % tidak pernah melakukan. Angka rata-rata aspek butir ‘Membimbing guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran/bimbingan (di kelas, laboratorium dan atau dilapangan) untuk tiap mata pelajaran dalam rumpun   mata pelajaran PAI  adalah 60 %.

   

 

Secara umum responden dalam butir memberikan sudah memberikan, tetapi masih ditemukan pengawas  yang jarang melakukan bimbingan yaitu 3,1 %. Malahan terdapat 3,1% responden yang tidak pernah. Artinya kalau dijumlahkan, 6,2 % pengawas lamban dalam memberikan layanan bimbingan kepaada guru binaannya, padahal persiapan mengajar bagian penting dalam meningkatkan mutu pelaksanaan pendidikan di kelas. 

   

Pada Aspek butir membimbing guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran/bimbingan (di kelas, laboratorium dan atau dilapangan) untuk tiap mata pelajaran dalam rumpun   mata pelajaran yang relevan disekolah menengah yang sejeni, pada pernyataan ‘(22) memberikan bimbingan kepada guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas atau diluar kelas’, 6,2% responden menyatakan sangat sering melakukan, 56,9% sering melakukan, 30,8 % cukup sering, 4,6 % jarang dan 1,5 % tidak pernah. Pada pernyataan ‘(23) mendorong guru untuk mengadakan kegiatan pembelajaran yang aplikatif sesuai dengan materi pelajaran’ 16,9 % menymatakan sangat sering melakukan, 56,9% sering melakukan, 23,1% cukup sering, 3,1% jarang dan 0% tidak pernah melakukan. Angka rata-rata untuk aspek butir ini 40,0%.

   

Pada pernyataan ‘(24) memahami prinsip-prinsip penggunaan media pembelajaran’ 12,3% respon sangat memahami, 47,7% memahami, 32,3% cukup memahami, 4,6% kurang dan 3,1 % tidak memahami. pada pernyataan ‘(25)   memahami jenis-jenis media pembelajaran’ 15,4 % responden sangat mampu menggunakan media pembelajaran, 50,8% mampu menggunakan, 27,7% cukup mampu, 4,6% kurang mampu dan 1,5% tidak mampu. Pada pernyataan ‘(26) dapat menggunakan media pembelajaran yang sesuai dengan Pembelajaran rumpun   PAI, 9,2 % responden sangat mampu menggunakan media pembelajaran, 49,2% mampu menggunakan, 35,4% cukup mampu, 4,6% kurang mampu dan 1,5% tidak mampu. Pada pernyataan ‘ (27) memberikan bimbingan kepada guru menggunakan media yang tepat dalam pembelajaran rumpun   PAI, 4,6 % responden sangat sering memberikan bimbingan kepada guru, 58,5% sering memberikan bimbingan, 24,6 % cukup sering memberikan bimbingan, 9,2 % jarang memberikan bimbingan dan 3,1 % tidak pernah memberikan bimbingan. Angka rata-rata untuk aspek butir ini 80,4 %

   

Pada aspek butir Memotivasi guru untuk memanfaatkan teknologi informasi dalam pembelajaran/bimbingan tiap mata pelajaran dalam rumpun   mata pelajaran PAI, dalam pernyataaan ‘(28) memahami teknologi informasi, 9,2 % menyatakan sangat memahami teknologi informasi, 24,6 % memahami dengan baik, 47,7 % cukup memahami, 7,7 % kurang memahami dan 10,8 % tidak memahami teknologi informasi. Pada pernyataan ‘(29) memberikan bimbingan kepada guru menggunakan teknologi informasi’, 3,1 %  responden menyatakan sangat sering memberikan bimbingan penggunaan teknologi informasi, 33,8 % sering memberikan bimbiingan teknologi informasi, 44,6% cukup sering memberikan bimbingan, 13,8 %  jarang memberikan bimbingan dan 4,6 % tidak pernah memberikan bimbingan teknologi informasi kepada guru-guru. Pada pernyataan ‘(30)  mendorong guru menggunakan teknologi informasi dalam  pembelajaran tiap-tiap rumpun PAI’ 3,1 % sangat sering mendorong guru, 46,2% sering mendorong, 44,6 % cukup sering, 4,6 % jarang melakukan dan 1,5% tidak pernah memberikan dorong kepada guru. Angka rata-rata untuk butir memotivasi guru untuk memanfaatkan teknologi informasi dalam pembelajaran/bimbingan tiap mata pelajaran dalam rumpun   mata pelajaran 60,%

   

Apabila dibandingkan diantara ke sembilan butir aspek kompetensi akademik, nilai tertinggi adalah pada butir ‘Membimbing guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) untuk tiap mata pelajaran dalam rumpun   mata pelajaran PAI’ yaitu 75,1 %. Dibawahnya butir membimbing guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran/bimbingan (di kelas, laboratorium dan atau dilapangan) untuk tiap mata pelajaran dalam rumpun   mata pelajaran PAI yaitu 74,9 %. Dibawahnya butir ‘Membimbing guru dalam mengelola, merawat, mengembangkan dan menggunakan media pendidikan dan fasilitas pembelajaran/bimbingan tiap mata pelajaran dalam rumpun   mata pelajaran PAI’, yaitu 72,4 %. Dibawahnya aspek butir ‘Membimbing guru dalam memilih dan menggunakan strategi/metode/teknik pembelajaran/bimbingan yang dapat mengembangakan berbagai potensi siswa melalui mata-mata pelajaran dalam rumpun   mata pelajaran PAI’ 71,6 %, dibawahnya ‘Memahami konsep, prinsip, teori dasar, karakteristik dan kecendrungan perkembangan tiap mata pelajaran dalam rumpun   mata pelajaran PAI’, 71,5%. Dibawahnya aspek butir ‘Memahami konsep, prinsip, teori dasar rumpun   mata pelajaran PAI’ 71,0 %, dibawahnya aspek butir ‘Memahami konsep, prinsip, teori/teknologi, karakteristik dan kecendrungan perkembangan proses pembelajaran/bimbingan tiap mata pelajaran dalam mata pejalaran PAI’, 70%, dibawahnya aspek butir ‘Membimbing guru dalam menyusun silabus tiap mata pelajaran dalam rumpun   mata pelajaran PAI berlandaskan standar isi, standar kompetensi dan kompetensi dasar dan prinsip-prinsip pengembangan KTSP’, yaitu 69,5 %. Nilai terendah pada aspek butir ‘Memotivasi guru untuk memanfaatkan teknologi informasi dalam pembelajaran/bimbingan tiap mata pelajaran dalam rumpun   mata pelajaran PAI’ yaitu 65,1 %.

   

Data tersebut apabila disajikan dalam bentuk grafik sebagaimana berikut:

   

Grafik:  Tingkat Kompetensi Pengawas PAI di dbidang Supervisi Akademik

   

 

   

Keterangan:

   

1.

Memahami konsep, prinsip, teori dasar, karakteristik dan kecendrungan perkembangan tiap mata pelajaran dalam rumpun   mata pelajaran PAI.

   

2.

Memahami konsep, prinsip, teori dasar, karakteristik dan kecendrungan perkembangan tiap mata pelajaran dalam rumpun   mata pelajaran PAI

   

3.

Memahami konsep, prinsip, teori/teknologi, karakteristik dan kecendrungan perkembangan proses pembelajaran/bimbingan tiap mata pelajaran dalam mata pejalaran PAI.

   

4.

Membimbing guru dalam menyusun silabus tiap mata pelajaran dalam rumpun   mata pelajaran PAI berlandaskan standar isi, standar kompetensi dan kompetensi dasar dan prinsip-prinsip pengembangan KTSP.

   

5.

Membimbing guru dalam memilih dan menggunakan strategi/metode/teknik pembelajaran/bimbingan yang dapat mengembangakan berbagai potensi siswa melalui mata-mata pelajaran dalam rumpun   mata pelajaran PAI.

   

6.

Membimbing guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) untuk tiap mata pelajaran dalam rumpun   mata pelajaran PAI.

   

7.

Membimbing guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran/bimbingan (di kelas, laboratorium dan atau dilapangan) untuk tiap mata pelajaran dalam rumpun   mata pelajaran PAI.

   

8.

Membimbing guru dalam mengelola, merawat, mengembangkan dan menggunakan media pendidikan dan fasilitas pembelajaran/bimbingan tiap mata pelajaran dalam rumpun   mata pelajaran PAI.

   

9.

Memotivasi guru untuk memanfaatkan teknologi informasi dalam pembelajaran/bimbingan tiap mata pelajaran dalam rumpun   mata pelajaran PAI. 

   

Dari grafik  di atas,  kompetensi tertinggi adalah pada butir 6 yaitu dalam pembimbingan guru membuat RPP untuk mata pelajaran PAI yaitu 75 %.  Dari tiga pernyataan yang diberikan angka tertingg pada pemahaman langkah-langkah penyusunan RPP yaitu 20 % menyatakan sangat memahami, 42, 8 memahami dengan baik 14,8 % kurang memahami 0,6 % kurang memahami dan tidak ada yang tidak memahami. Angka terendah pada pernyataan memebrikan umpan balik kepada guru-guru mengenai metode atau model dalam mengembangkan potensi siswa. 6,2% sangat sering melakukan, 40,6 % melakukan, 20,3% jarang melaakukan dan 0,3 % tidak pernah melakukan. Angka jarang melakukan, dan tidak pernah melakukan kalu dgabung 3,4 %. Ini artinya bahwa masih banyak pengawas yang tidak memperhatikan efektifitas RPP setelah di laksanakan di kelas, padahal ini penting untuk perbaikan kualitas pembelajaran secara berkelanjutan dan terprogram.

   

Angka tertinggi selanjutnya pada butir 7, membimbing guru dalam melaksanakan pembelajaran di kelas, yaitu 74,9 %. Nilai tertinggi pada pernyataan ‘ mendorong guru untuk mengadakan kegiatan pembelajaran yang aplikatif sesuai dengan materi pelajaran’ yaitu 16,9% sangat sering melakukan, 45,5% sering melakukan, 13,8 % cukup sering melakukan, 1,2 % jarang  melakukan dan 0 % tidak pernah melakukan. Ini artinya bahwa fungsi pengawas sebagai motivator dan advisor dijalankan dengan baik. 

 

2.

Kompetensi Akademik yang sudah dikuasai oleh Pengawas

   

Dari data yang diperoleh dari hasil angket, kompetensi yang dikuasai pengawas dan tertinggi prosentasinya sebagai berikut:

   

Butir 3 ‘Memahami konsep, prinsip, teori/teknologi, karakteristik dan kecendrungan perkembangan proses pembelajaran/bimbingan tiap mata pelajaran dalam mata pejalaran yang relevan disekolah menengah yang sejenis’.

   

Ada 5 point pernyataan yang diajukan dalm butir ini, yaitu:

   

Point Nomor (6)‘ memahami  konsep-konsep  proses pembelajaran rumpun   PAI. Yang dimaksudkan dalam proses ini adalah bagaimana seharusnya proses pembelajaran dilakukan. Bagaimana pembelajaran PAIKEM dilaksanakan, bagaimana memulai pembelajaran, bagaimana explorasi, elaborasi dan konfirmasi dilaksanakan, bagaimana menutup pembelajaran bagai bertanya yang baik, menjawab petanyaan. Dalam hal ini 12,3 %  responden menyatakan sangat memahami, 52,3%  memahami,  30,8%  cukup memahami, 3,1 % kurang memahami dan 1,5 %  menyatakan tidak memahami.

   

Point nomor (7), ‘ memahami teknologi pembelajaran rumpun   PAI’. Yang dimaksudkan dengan  teknologi pembelajaran rumpun PAI disini adalah bagaimana mendesain  pembelajaran, delivery system (metodologi, evaluasi) dan media pembelajaran memahami.  dalam hal ini responden menyatakan 10,8  % sangat memahami, 32,3 % memahami, 38,5 % cukup memahami, 9,2 kurang memahami dan 9,2% tidak memahami. Pada prinsipnya teknologi pembelajaran,  lebih banyak pada tataran konsep, bukan tatara praktis.. Dari data diata yang kurang faham 9,2 dan tidak faham sama sekali  9,2 %. Ini artinya 18,4 % belum memahami dengan baik terhadap teknologi pembelajaran.

   

Point nomor (9)’  memahami teori bimbingan kepada siswa’.  Yang dimaksudkan dengan teori bimbingan kepada siswa adalah bagaimana siswa belajar, apa kendala mereka dalam belajar, bagaimana memotivasi mereka untuk belajar dan bagaimana memahami interaksi mereka dengan guru dan sesama. Dalam hal ini responden menjawab; 18,5% sangat memahami, 46,2% memahami, 29,2% cukup memahami, 3,1%  kurang memahami dan 3,1 % tidak memahami.

   

Point nomor  (10) ‘ memahami bagaimana memasukkan Nilai-Nilai Kewirausaahaan dan Karakter Budaya Bangsa dalam pembelajaran’. Responden menjawab ; 9,2% sangat memahami, 40 % memahami, 38,5% cukup memahami dan 1,5 % tidak memahami. Yang dimaksudkan dengan nilai-nilai kewirausahaan dan karakter budaya bangsa adalah internalisasi nilai-nilai ini kedalam setiap materi pelajaran pada materi-materi berhubungan. Internalisasi ini mulai dari proses identifikasi SK/KD, memasukkannya dalam RPP, melaksanakanya dalam pembelajaran dan mengeavaluasinya.

   

Dari kelima point yang dari butir nomor 3  ini, point mengikuti perkembangan tampaknya paling rendah. Ini erat kaitannya dengan motivasi, kemauan dan sarana, dan keterampilan pengawas memanfaatkan teknologi informasi mencari informasi-informasi baru seputar pendidikan. artinya pengawas perlu meningkatkan motivasi dan keterampilan untuk mengakses perkembangan teknologi pembelajaran di berbagai media guna mendukung tugasnya sebagai pengawas pendidikan. Ini tentu dimaksudkan agar pengawas tidak ketinggalan informasi dari guru-guru yang menjadi binaannya.

   

Butir nomor  5 ‘Membimbing guru dalam memilih dan menggunakan strategi/metode/teknik pembelajaran/bimbingan yang dapat mengembangakan berbagai potensi siswa melalui mata-mata pelajaran dalam rumpun mata pelajaran yang relevan disekolah menengah yang sejenis’. Ada 2 point pernyataan yang diminta dalam butir ini; 

   

Point pertama (14) ‘. memahami strategi dan metode pembelajaran yang tepat dalam mengembangkan berbagai potensi siswa melalui pembelajaran rumpun   PAI’. Responden menjawab; 9,2% sangat memahami, 41,5%  memahami, 41,5 cukup memahami, 4,6 kurang memahami dan 3,1%  tidak memahami. 

   

Point  kedua (15) ‘ memahami model-model pembelajaran dan perkembangannya untuk mengembangkan berbagai potensi siswa melalui pembelajaran rumpun   PAI’. 10,8%  responden menyatakan sangat menguasai, 35, 4% memahami, 44,6 % cukup memahami dan 0 % tidak memahami.

   

Pemahaman terhadap model-model pembelajaran dan perkembangannya angkanya tinggi, rata-rata prosentasinya 100%. Ini menunjukkan bahwa pengawas menguasai terhadap model-model pembelajaran.

 

3.

Kompetensi Akademik yang Belum Dikuasai Oleh Pengawas

   

Berikut ini butir-butir kompetensi yang nilai rendah.

   

Pembimbingan guru dalam KBM (di kelas, laboratorium dan atau dilapangan) untuk tiap mata pelajaran dalam rumpun   mata pelajaran yang relevan disekolah’,  rata-rata nilainya 40%.

   

Ada dua point pernyataan yang diajukan yaitu point nomor (22)’  memberikan bimbingan kepada guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas atau diluar kelas’. Dalam pernyataan ini 4,6 % yang jarang melakukan dan 1,5 % yang tidak melakukan sama sekali. Adapun pada point nomor (23) ‘ mendorong guru untuk mengadakan kegiatan pembelajaran yang aplikatif sesuai dengan materi pelajaran’, 3,1 % yang jarang melakukan dan 0 % yang tidak melakukan. Rendahnya nilai pada butir ini, diduga seiring dengan rendahnya intensitas kunjungan pengawas ke sekolah, sehingga mereka jarang melakukan kunjungan kelas. Pada kunjungan kelas ini merupakan kegiatan penting dalam supervisi akademik. Bagaimana mungkin memberikan perbaikan pembelajaran, apabila pelaksanaan pembelajarannya itu sendiri tidak disaksikan secara langsung. 

   

Idealnya perbaikan pembelajaran di awali melalui pengamatan langsung, selanjutnya membuat catatan temuan untuk ditindak lanjuti

   

 

Butir nomor 2 ‘Memahami konsep, prinsip, teori dasar, karakteristik dan kecendrungan perkembangan tiap mata pelajaran dalam rumpun   mata pelajaran yang relevan di sekolah menegah’ rata-rata nilainya 40 %.

   

 

Dari tiga pernyataan yang ajukan nilai tertinggi pada  pernyataan ‘  memahami konsep materi rumpun PAI. 12,8 % menyatakan sangat memahami, 40 % memahami, 46,2% cukup memahami, 6,2 % kurang memahami dan 0 % tidak memahami. angka terendah pada pernyataan point nomor 2 ‘ memahami prinsip-prinsip  materi rumpun   PAI’, 4,6% sangat memahami, 49,2 % memahami, 36,9% cukup memahami, 9,2 % kurang memahami dan 1,5 % tidak memahami.

   

Butir nomor 7 ‘Membimbing guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaranpada supervisi klinis. Dalam supervisi klinis inilah dilakukan 

   

perbaikan pelaksanaan pembelajaran.

D.

Kesimpulan dan Saran

 

1. 

Kesimpulan

   

a.

Profesionalisme pengawas dibidang akademik di Kanwil Kemenag Provinsi Banten cukup baik, hasil dari 9 butir kompetensi akademik yang disyaratkan oleh Permendiknas Nomor 12 Tahun 2007, nilai rata-rata yang diperoleh pengawas adalah  66,7 %.  Dengan rincian sebagai berikut;

     

1)

Butir Memahami konsep, prinsip, teori dasar, karakteristik dan kecendrungan perkembangan tiap mata pelajaran dalam rumpun   mata pelajaran PAI, nilai rata-rata 60,3 %

     

2)

Memahami konsep, prinsip, teori dasar, karakteristik dan kecendrungan perkembangan tiap mata pelajaran dalam rumpun   mata pelajaran PAI, nilai rata-rata 40%.

     

4)

Membimbing guru dalam menyusun silabus tiap mata pelajaran dalam rumpun   mata pelajaran PAI berlandaskan standar isi, standar kompetensi dan kompetensi dasar dan prinsip-prinsip pengembangan KTSP, nilai rata-rata 60%.

     

5)

Membimbing guru dalam memilih dan menggunakan strategi/metode/teknik pembelajaran/bimbingan yang dapat mengembangakan berbagai potensi siswa melalui mata-mata pelajaran dalam rumpun   mata pelajaran PAI, nilai rata-rata 100 %

     

6)

Membimbing guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) untuk tiap mata pelajaran dalam rumpun   mata pelajaran PAI, nilai rata-rata 60 %

     

7)

Membimbing guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran/bimbingan (di kelas, laboratorium dan atau dilapangan) untuk tiap mata pelajaran dalam rumpun   mata pelajaran PAI, nilai rata-rata 40 %

     

8)

Membimbing guru dalam mengelola, merawat, mengembangkan dan menggunakan media pendidikan dan fasilitas pembelajaran/bimbingan tiap mata pelajaran dalam rumpun   mata pelajaran PAI, nilai rata-rata 80%

     

9)

Memotivasi guru untuk memanfaatkan teknologi informasi dalam pembelajaran/bimbingan tiap mata pelajaran dalam rumpun   mata pelajaran PAI, nilai rata-rata  60%.

   

b.

Kompetensi yang tertinggi dikuasai oleh pengawas di wilyah Kemenag Provinsi Banten adalah pada:

     

1)

Memahami konsep, prinsip, teori/teknologi, karakteristik dan kecendrungan perkembangan proses pembelajaran/bimbingan tiap mata pelajaran dalam mata pejalaran yang relevan disekolah menengah yang sejenis, nilai rata-rata 100 %

     

2)

Membimbing guru dalam memilih dan menggunakan strategi/metode/teknik pembelajaran/bimbingan yang dapat mengembangakan berbagai potensi siswa melalui mata-mata pelajaran dalam rumpun   mata pelajaran PAI, nilai rata-rata 100 %.

   

c. 

Kompetensi yang terendah dikuasai oleh pengawas PAI di kanwil kemenag Provinsi Banten adalah:

     

1)

Memahami konsep, prinsip, teori dasar, karakteristik dan kecendrungan perkembangan tiap mata pelajaran dalam rumpun   mata pelajaran yang relevan di sekolah menegah. Nilai rata-ratanya 40 %

     

2)

Membimbing guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran/bimbingan (di kelas, laboratorium dan atau dilapangan) untuk tiap mata pelajaran dalam rumpun   mata pelajaran yang relevan disekolah menengah yang sejenis. Nilai rata-rata 40%.

 

2.

Rekomendasi 

   

1)

Perlu perhatian serius dari pejabat pembina pengawas di lingkungan Kementerian Agama Wilayah Banten untuk membina para pengawas PAI dan  lebih memberdayakan mereka dalam kegiatan-kegiatan kependidikan.

   

2)

Rekruitmen pengawas hendaknya melalui prosedur yang sesuai dengan peraturan yang berlaku.

   

3)

Dalam pengambilan kebijakan dalam bidang pendidikan ditingkat Kemenag Provinsi Banten hendaknya meminta masukan dan pertimbangan dari para pengawas agar mereka lebih dihargai dan dimanusiakan.

   

4)

Perlu kegiatan peningkatan kompetensi pengawas yang berkualitas yang dilaksanakan secara terprogram dan berkesinambungan agar mereka dapat menjalankan tugas mereka sebagai motor penggerak peningkatan kualitas pendidikan di lingkungan Kemenag Provinsi Banten.

   

5)

Kepada Balai Diklat Keagamaan Jakarta yang membawahi wilayah Provinsi Banten, perlu mempersiapkan diklat yang berkualitas khususnya bagi pengawas sesuai dengan diskrepansi yang terjadi dilapangan.    

   

6)

Perlu penyusunan materi supervisi akademik yang aplikatif untuk digunakan pengawas dalam melaksanakan tugas bimbingan kepada guru-guru binaanya.

         

Daftar Pustaka

Abin Syamsuddin Makmun. (2003). Psikologi Pendidikan. Bandung: Rosda Karya Remaja.

Anderson, L.W., and Krathwohl, D.R. (eds. and with P.W. Airasian, K.A. Cruikshank, R.E.

Arends, Richard I., (2007). Learning to Teach. Seventh Edition, Boston: Mc Graw Hill.

Arikunto, S. (2000), Manajemen Penelitian, Jakarta: Rineka Cipta

-----------------(1998), prosedur Penelitian, suatu pendekatan praktek, Jakarta: Rineka Cipta

Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega. (1990). Strategi Belajar Mengajar 

Depdikbud  (2001), Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah, Ditjendiknas Jakarta

---------------(2003), pedoman Supervisi Pengajaran, dikdasmen, Jakarta

-------------- (2002), Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah, Depdiknas, Jakata

Depdikbud, (1996). Pedoman Kerja Pelaksanaan Supervisi, Depdikbud, Jakarta

Dirjen P4TK, (2010) Supervisi Akademik (Materi Pelatihan Penguatan Kemampuan Pengawas

Glickman, C.D 1995. Supervision of Instruction, Boston: Allyn And Bacon Inc

Nana Sudjana, (1998), Dasar-Dasar Proses Belajar-Mengajar, Sinar Baru Bandung

Permenpan Nomor 20 Tahun 2010 tentang Jabatan Fungsional Pengawas dan Angka Kreditnya

Mayer, P.R. Pintrich, J, Raths, and M.C. Wittrock) (2001). A Taxonomy for Learning Teaching, and Assessing: A Revision of Bloom’s Taxonomy of Educational Objective.  New York: Longman. 

Peraturan Pemerintah  Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP)

Permendiknas No. 22 tahun 2006 Tentang Standar Isi

Permendiknas Nomor  13  tahun 2007  Pendidik 

Permendiknas Nomor 16 Standar Kualifikasi Pendidik

Permendiknas Nomor 19 Tentang Standar Pengelolaan

Permendiknas Nomor 20 Tahun 2007 Tentang Penilaian

Permendiknas Nomor 23 Tahun 2007 Tentang Standar Kelulusan

Rooijakkers, Ad. (1991). Mengajar Dengan Sukses, Petunjuk untuk Merencanakan dan Menyampaikan Pengajaran, Jakarta: PT. Gramedia. 

Udin S. Winataputra. (2003). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sisdiknas

 

Thu, 26 Nov 2015 @17:31

Copyright © 2017 HM YUNUS · All Rights Reserved